Pesta Puisi Rakyat “Malam Betawi, Malam Jakarta” Akan Digelar di Taman Ismail Marzuki

CIKINI | Menyadari pentingnya mengenalkan puisi Betawi, Komunitas Baca Betawi yang bergerak dalam bidang literasi, bersama Betawi Kita dan Lembaga Kebudayaan Betawi, akan menggelar Pesta Puisi Rakyat dengan tema “Malam Betawi, Malam Jakarta”.

Acara yang akan digelar selama dua hari, pada hari Jumat – Sabtu, 18-20 Oktober 2019 mendatang, akan diadakan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian acara Hari Puisi Indonesia 2019.

Seniman Betawi Yahya Andi Saputra, selaku Ketua Panitia, dalam siaran persnya, mengatakan, tema “Malam Betawi, Malam Jakarta” dipilih lantaran ingin mengangkat sastra Betawi, khususnya puisi di Jakarta yang merupakan wilayah yang kental dengan budaya Betawi. Harapannya seluruh masyarakat Betawi dan warga Jakarta makin paham dan cinta dengan kebudayaan Betawi.

“Tujuan event ini, ingin mengenalkan karya puisi Betawi ke masyarakat luas. Juga mendorong banyak penulis Betawi dan masyarakat umum untuk menghasilkan puisi dengan tema Betawi. Sekaligus memberikan warna baru dalam dunia perpuisian di Indonesia. Bentuk acara ini meliputi, pembacaan Puisi Betawi dan Pergelaran Kesenian Betawi serta Bazar Kuliner Betawi,” ujar Cing Yahya, demikian beliau akrab disapa.

Cing Yahya mengungkapkan, kehidupan bangsa ini sejak lama sudah bersentuhan dengan dunia sastra. Termasuk di Betawi, sastra telah lama mewarnai kehidupan sehari-hari orang-orangnya. Menurut Sagimun dalam buku Susastra Melayu Betawi, sastra Betawi disebutnya sebagai susastra orang-orang Betawi yang hidup di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi.

Menurutnya, kesustraan Betawi ditulis dalam bahasa Betawi. Pengarangnya mungkin orang Betawi, mungkin juga Betawi keturunan. Sementara syarat ketiga dan keempat menurut Yahya adalah dibaca atau didengar oleh orang Betawi serta isi ceritanya menyangkut adat istiadat, agama, tingkah laku, dan keadaan alam Betawi.

“Salah satu bagian sastra Betawi yang telah lama hidup di masyarakatnya adalah puisi.  Puisi Betawi sejak lama bersumber dari sastra lisan Betawi. Ditilik dari sejarahnya, puisi Betawi terbagi dua puisi tradisional dan puisi modern Betawi. Pada awal abad ke-20 dan tahun-tahun berikutnya, sejumlah penerbit, mencoba menerbitkan buku-buku syair dan pantun,” jelasnya.

Dalam kancah nasional, diakui Yahya, puisi Betawi masih kurang banyak dikenal. Selama belasan tahun ini ini telah ada usaha menuliskan dan menerbitkan buku puisi Betawi, seperti yang dilakukan oleh Ridwan Saidi, Jeffry Al Katiri, Yahya Andi Saputra, Komunitas Baca Betawi, dan lainnya. Namun, usaha ini belum optimal. Makanya wajib ada gerakan untuk menggaungkan puisi Betawi. (des)