Mengenang Yamin Azhari Sembari Diskusi Teater Rakyat Betawi

CIKINI – Para pegiat seni budaya Betawi menggelar diskusi bertajuk “Mengembalikan Teater Rakyat Betawi agar tak asyik sendiri” di Selasar Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jum’at (10/1/2020) sore. Diskusi ini juga sekaligus mengenang wafatnya seniman Betawi Yamin Azhari yang belum ini baru saja wafat.

Hadir sebagai narasumber dalam diskusi ini, Nendra WD (Putra WS Rendra), Julianti Parani, PhD (pengamat seni budaya), dan Dr. Syaiful Amri (Pegiat budaya Betawi).

Siapa Yamin Azhari? Siapa Yamin Azhari? Beliau adalah seorang penulis Betawi kelahiran Kampung Rawa, Jakarta Pusat, 28 Januari 1958. Ia menulis sejak SD, pada 1976 masuk dunia teater. Pria yang berguru pada sastrawan dunia ini, pernah menjadi wartawan media nasional, seperti Inti Jaya, tabloid Karina (Kartini Grup), FORKI, dan tabloid Bintang.

Dalam penulisan skenario film, ia berguru pada banyak sutradara hebat, salah satunya Teguh Karya. Skenarionya cukup banyak, mulai dari sinetron Kabayan Orang Beken, Anak Ondel-Ondel, Panji Tengkorak, Ken Arok, Ayu Anak Titipan Surga, dan lain-lain. Penghargaan berupa, juara 1 lomba cerpen Betawi (2007), naskah terbaik lomba lenong anti narkoba, dan prestasi lainnya. Sampai saat ini masih menulis cerpen, novel, skenario, dan sajak. Diantara Novel yang pernah ditulisnya berjudul “Nyai Dasima”.

Selama hidupnya, Yamin Azhari aktif di Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), komunitas Gerbang Betawi, dan Baca Betawi. Sebagai seniman Betawi, Bang Yamin – begitu beliau akrab disapa – juga memimpin Teater Pangkeng, sebuah teater yang mementaskan lenong Betawi. Diantara lenong yang pernah disutradarainya berjudul “Si Jampang” dan “Si Ronda”.

Ketua Komunitas Baca Betawi, Rachmat Sadeli, salahsatu sahabat almarhum, Bang Yamin dikenal sebagai sosok yang yang disiplin. Selalu datang tepat waktu, begitu juga ibadah shalatnya. “Ame buku, selalu mau memiliki. Kadang beli, minta copy. Begitu juga dalam acara, kalau ada buku beliau selalu ingin punya dan bawa buku untuk mencatat,” kenang Rachmat.

Bang Yamin juga bukan sosok yang haus pujian. “Tapi dia bilang butuh orang yang mau memberitakan tentang karyanya. Asal jangan kita sendiri yang memuji. “Ane butuh ente buat sebar kegiatan di medsos, ” begitu kata Babe Yamin dalam kenangan Bang Rahmat.

Slow, tapi terus berpikir. Hidup itu berteater. Masih dalam kenangan Rahmat Sadeli, Bang Yamin bisa duduk berjam-jam di stasiun. Hanya untuk mengamati orang lalu lalang. “Masih segar dalam ingatan kata-kata Almarhum Bang Yamin, kerjaan penulis ya menulis. Ente kaga usah pikirin marketing. Ente kaga bakal sanggup, melakukan semuanya. Serahkan semua ke Allah,” kata Rahmat bercerita.

Pertunjukan Teater

Bicara seni pertunjukan teater di Jakarta, telah berkembang sejak awal abad ke-19. Penelitian terdahulu menyebut bentuk seni teater di Jakarta lebih dekat pada bentuk kemelayuan, seperti diketahui dari munculnya tonil, wayang dermuluk, wayang sunendar, hingga kemudian muncullah lenong.

Penelitian mula-mula, seperti yang dilakukan oleh antropolog CD Grijns, tidak telalu jelas membahas lenong, tapi jelas bahwa lenong berkembang sejak 1960-an. Penelitian lanjutan menyebut ada peran saudagar Tionghoa/Cina dalam perkembangan lenong kemudian.

Pada awal berdirinya TIM, seniman lenong dan topeng secara rutin mengisi pertunjukan di pusat kesenian pertama di Jakarta tersebut. Maka, sohorlah nama Bokir, Nasir, Nori, dan Anen.

Sejarah mencatat, sejak 1969-1988 berkali-kali diadakan pertunjukan  lenong di TIM oleh sutradara SM Ardan, Sumantri Sastrosuwondo, Achmad MS, Firman Muntaco, dan lain-lain.

Grup lenong dan topeng pun aktif manggung di TIM. Jakarta sebagai kota metropolitan dan ibu kota menyimpan peran penting dalam pengembangan seni Indonesia. Budaya Betawi yang meltingpot pun membaur dan salah satunya tecermin melalui perkembangan teater. Perlu ada perubahan dan mengadopsi nilai-nilai yang lebih intercultural. Selama ini teater rakyat Betawi seolah jalan di tempat dan tidak memperhatikan perkembangan zaman yang ada.

Perubahan senantiasa terjadi dalam perkembangan zaman, baik sebagai tuntutan masyarakat maupun perngembangan kreativitas. Proses revitalisasi bisa seperti Kombet (komedi Betawi).

Menurut Saiful Amri (pengagas Kombet), mengatakan Kombet merupakan rekacipta lenong ataupun bentuk pertunjukan pewarisan maupun bentuk ekspresi kontemporer.

Demikian revitalisasi perlu dalam upaya mempertahankan, baik sebagai tradisi komunitas maupun mengarah ke adaptasi kontemporer untuk masyarakat yang heterogen. Julianti Parani  menyebut, “Apabila konteks multikutural bisa dimanfaatkan dengan baik, bisa menjadi masukan interkultural, maupun transkultural yang berbeda zaman menjadi hibrida, mengangkat harkat pergaulan antar komunitas maupun bangsa, serta mengembangkan harmonisasi dalam pergaulan dunia.”

Imbasnya, kesenian tradisional Betawi terangkat sebagai kesenian nasional dan siap tahu, bisa menjadi warisan dunia serta model yang ramai dipacu kini.

Syamsudin Bahar Nawawi sebagai Ketua Teater Pangkeng setelah Alm. Yamin Azhari,  mengatakan diskusi ini dibuat untuk mencari format pementasan teater yang baru dan melebur dengan masyarakat. “Sekaligus mengenang almarhum Yamin Azhari, pemimpin dan sutradara Teater Pangkeng, Sekaligus Pendiri Teater Pangkeng yang wafat pada November 2019 yang lalu.

Sebagai penyelenggara, Teater Pangkeng menggandeng Lembaga Kebudayaan Betawi dan Komunitas Literasi Baca Betawi mengadakan diskusi bertema “Mengenang Yamin Azhari:

Membicarakan Teater Rakyat Betawi agar Tak Asyik Sendiri” Hadir sebagai pembicara Nendra WD, seniman/pengasuh teater; Julianti Parani PhD, budayawan/pengajar senior purnabakti IKJ; dengan moderator DR. Syaiful Amri, pengagas Komedi Betawi.

Sekilas Teater Pangkeng

Teater Pangkeng didirikan berawal dari kerinduan untuk berteater para pekerja seni yang sudah aktif di dunia pertelevisian. Para penulis scenario, penata artistik, kameramen, dan para pemain film/sinetron ini merasa, apabila teater diberi perhatian lebih, pasti akan mendapat perhatian dari penonton serta dunia usaha.

Para pekerja seni ini berupaya mengamalkan sejumlah ilmu yang masing-masing mereka miliki dalam melatih sejumlah anak-anak muda dengan prinsip “Berteater untuk belajar hidup dan mencari kehidupan”.

Kemudian pada bulan Januari 2006, berdirilah Teater Pangkeng,  mengambil dari Bahasa Betawi yang berarti “kamar”. Pertimbangannya, sebagian besar anggota teater merupakan orang Betawi, serta berasal dari teater modern yang ingin mengangkat tradisi teater rakyat sesuai dengan perkembangan zaman.

Pangkeng menjadi ruang yang sangat pribadi, tempat menjalin hubungan cinta, kasih sayang, persaudaraan, dan proses kreatif untuk melahirkan karya-karya yang bermutu dan berkualitas.

Tentu dengan tetap memakai pakem kesenian tradisional yang sudah ada.  Karna itu Moto Teater Pangkeng adalah Teater Kasih Sayang.

PANGKENG mempunyai maksud dan tujuan memelihara dan mengembangkan serta melestarikan berbagai jenis seni dan budaya Betawi, sehingga seni dan budaya Betawi tetap ada dan berkembang, serta dikenal dan dicintai oleh masyarakat Betawi sendiri pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Sejak 2008, Teater Pangkeng telah ikut berpartisipasi dalam festival teater dan berkali-kali mengadakan pementasan tunggal hingga saat ini. (des)