Mantab! Komunitas Baca Betawi Gelar Lomba Baca Cerpen Betawi

CIKINI | Cerita Betawi salah satu khasanah sastra Betawi yang telah lama dikenal masyarakat. Bahkan pada periode tertentu tahun1960 sampai 1980-an cerita Betawi amat sohor di Tanah Air melalui terbitan di media cetak.

Salah seorang yang ikut andil besar mempopulerkannya adalah Firman Muntaco dengan karyanya yang tersebar di berbagai media cetak. Nama lain yang juga tak kalah tenar adalah SM Ardan dengan kumpulan cerita pendeknya di buku Terang Bulan Terang Di Kali. Masa  kekinian ada penulis Zen Hae, Chairil Gibran Ramadhan, Hairul Haq, dan Aba Mardjani. Karya Aba Mardjani malah masuk dalam cerita pendek pilihan Kompas.

Selain cerpen, ada banyak penulis Betawi yang berkiprah dalam penulisan puisi dan novel. Penulis itu antara lain, Ridwan Saidi (puisi dan novel) Yahya Andi Saputra (Menulis 3 buku puisi dan puluhan antologi), Jeffry J. Alkatiri, Yamin Azhari, Asep Setiawan, Jaronah Abdullah, Wahyu Toveng, dan lainnya.

Menyadari pentingnya untuk membangkitkan minat terhadap cerita pendek Betawi, Yayasan Baca Betawi  menggandeng Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dan Lembaga Kebudayaan Betawi menggelar lomba Baca Cerpen Betawi yang diadakan pada 9 Februari 2020 di Lobby Perpustakaan Umum Daerah Cikini (Taman Ismail Marzuki).

Tema acara yang dipilih adalah Sastra dan Kita. Tujuannya agar sastra Indonesia, khususnya cerita pendek Betawi bisa lebih dekat dikenal masyarakat.

Sebelum menggelar acara lomba ini, Yayasan Baca Betawi pernah bersinergi dengan Dewan Kesenian Jakarta membuat acara Pekan Sastra Betawi pada Agustus 2019. Ajang Lomba Baca Cerpen ini merupakan bukti konsistensi Yayasan Baca Betawi pada pengembangan dunia literasi, khususnya sastra Betawi.

Rachmad Sadeli, Ketua Yayasan Baca Betawi mengatakan, “Dengan adanya event Lomba Baca Cerpen Betawi ini, harapannya dapat menggugah minat generasi baru untuk menyukai cerita Betawi. Mudah-mudahan banyak orang terpacu untuk berkarya dalam penulisan cerita Betawi. ”

Harapan lainnya, dengan digelarnya ajang ini di TIM yang sedang direvitalisasi, pegiat sastra dan seni Betawi nantinya dapat berkiprah lebih baik pada masa yang akan datang.

Peserta yang ikut dalam ajang ini berjumlah 20 orang. Juri dipercayakan kepada Zen Hae dan Fadjriah Nurdiarsih. Keduanya adalah penulis Betawi. Cerita pendek yang dipilih merupakan karya Firman Muntaco, SM Ardan, dan Aba Mardjani. Pilihan pada cerita Betawi yang dilombakan berdasarkan seleksi karya oleh tim panitia. Dengan dibacakan karya dari penulis Betawi, diharapkan banyak orang tahu tentang profil penulis Betawi tersebut.

Harapan lainnya, api semangat penulis Betawi dapat memotivasi banyak orang untuk melahirkan cerita Betawi yang berkualitas. Tak hanya itu, harapannya acara ini dapat menghibur dengan aksi dan gaya baca peserta.

Sekilas Komunitas Baca Betawi

Sebagai informasi, Baca Betawi merupakan komunitas yang terdiri dari berbagai latar belakang profesi, seperti jurnalis, seniman, budayawan, mahasiswa, pelajar, guru, pegawai swasta, dan masyarakat umum lainnya. Komunitas ini telah  sukses membuat buku Gado-Gado Antologi Puisi Anak betawi pada 2017 di di Balai Rakyat, Condet – Jakarta, Antologi Puisi 19 Penyair Betawi (2019).

Baca Betawi pernah membuat gelaran Hari Puisi Indonesia 2017 di Condet, Jakarta Timur dan Hari Puisi Indonesia 2018 di Ancol, Jakarta Utara. Lalu, menggelar aksi literasi pada momen Ca Free Day di jalan Jenderal Sudirman pada 10 Maret 2019. Tak hanya itu pada 5-8 Agustus 2019 Baca Betawi menjadi salah satu pendukung acara Pekan Sastra Betawi yang digelar di Taman Ismail Marzuki.

Berikutnya, pada 22 Agustus 2019, Baca Betawi ikut serta mengisi acara dalam ajang Jakarta International Literary Festival (JILF) digelar selama 4 hari, 20-23 Agustus 2019 di Taman Ismail Marzuki.

Komunitas yang didirikan, 14 April 2017 ini  anggotanya cukup aktif di berbagai kegiatan Betawi. Salah satunya, sukses dalam lomba Lenong Oplet Robet 2017, dengan meraih dua kategori piala.  Dalam ajang lenong itu, Baca Betawi membawakan kisah klasik Si Ronda. Sebuah kisah pendekar Betawi yang membela penduduk kampung Marunda dari penindasan seorang tuan tanah yang kejam.

Untuk membuat komunitas ini lebih baik secara organisasi. Pada 29 Mei 2019, Baca Betawi telah sah tercatat di Kemenhukham RI sebagai Yayasan Baca Betawi. (des)