by

Kapan Orang Betawi Menulis? Ini Kate Bang Yahya Andi Saputra

CIKINI | “Potret Betawi dalam Tulisan”. Demikian tajuk Kongko komunitas Betawi Kita kali ini, diadakan Ahad (23/2/2020) siang di Auditorium Perpustakaan Umum Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta.

Bekerjasama dengan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), Kongko Betawi Kita ke 37 ini menghadirkan narasumber: Yahya A. Saputra (Ketua Litbang LKB), Idrus F. Shahab (Penulis Betawi), dimoderatori oleh Fadjriyah Nurdiasih (Pegiat Betawi Kita). Dalam diskusi ini Cing Yahya, begitu beliau akrab disapa, membawakan makalah berjudul “Betawi Menulis Betawi”.

“Bila bicara mulanya, kapankah orang Betawi mulai menulis, baik menulis karya ilmiah, fiksi, ataupun ceker ayam suka-suka. Tetapi informasi tentang kearifan lokalnya – nilai dan pranata (sosial budaya) – telah tersampaikan secara apik dan menjadi tatalaku keseharian masyarakat Betawi secara turun-temurun,” kata Yahya Andi Saputra.

Bang Yahya menyebutkan contoh tentang sistem kepercayaan orang Betawi. Seperti diketahui, agama atau kepercayaan yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Betawi adalah Islam, dan dijadikan pedoman utama kehidupannya sebagai focus kebudayaan. Tiap aspek kehidupan orang Betawi selalu dikaitkan dengan Agama Islam.

“Pandangan hidup orang Betawi yang harus dilaksanakan, seperti waktu panggilan sembahyang telah tiba, harus segera dilaksanakan; orang meninggal harus segera dimakamkan; jika ada tamu, harus segera dijamu sesuai dengan kemampuan.”

Informasi itu disampaikan oleh bebongkot (tetua leluhur) yang berperan sebagai pemimpin informal, guru, seniman, dukun, jago, tukang dan praktisi lainnya. Merekalah yang ilmu, pengetahuan serta pengalamannya paling mumpuni dan dipercaya pada bidangnya masing-masing. Karena kemampuan menulis belum biasa, maka penyampaiannya tentu dengan tuturan lisan. Bentuknya bermacam-macam. Ada pituah, ada pantun, ada jampe, dongeng, hikayat, dan sebagainya.

Lebih lanjut bang Yahya menjelaskan, apabila dikaitkan dengan kelisanan atau kesastraan, maka dikenallah sastra lisan yang digolongkan menjadi tiga kelompok. Pertama, Buleng, yaitu cerita naratif yang menceritakan kerajaan-kerajaan lokal (dahulu disampaikan dalam bentuk pantun, kini narasi berdongeng biasa). Pendukung utamanya  berada di daerah pinggiran wilayah budaya Betawi yang berbatasan dengan wilayah budaya Sunda.

“Tak mengherankan jika kelompok ini cenderung memilih cerita-cerita yang berwarna kesundaan, seperti: Ciung Wanara, Telaga Warna, Raden Gondang, Gagak Rancang, Prabu Siliwangi, dan lain-lain.”

Kedua, Sohibul Hikayat, yaitu cerita yang disampaikan dalam bentuk prosa. Masyarakat pendukungnya terdapat di tengah-tengah wikayah budaya Betawi. Pendukungnya berasal dari Betawi Tengah yang berinteraksi dan berkehidupan sosial dengan kelompok etnis Melayu dan Arab.

“Pada kelompok masyarakat ini ceritanya kebanyakan bersal dari Timur Tengah. Antara lain bersumber pada kitab Seribu Satu Malam, maka muncul cerita seperti :  Hasan Husin, Ahmad Muhammad, Nurullaila Putri Jin, Sahrul Indara Bangsawan, dan lain sebagainya.”

Ketiga, Rancag (k), yaitu cerita yang disampaikan dalam bentuk pantun berkait diiringi musik gambang kromong. Pendukungnya berada di daerah pinggiran budaya Betawi terutama di bagian Utara. Masyarakat pendukungnya adalah orang Betawi yang kerap kali berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat Tionghoa. Masyarakat ini cenderung memilih cerita-cerita seperti :  Si Angki Jago Pasar Ikan, Mat Tompel, Si Pitung, atau Phoa Sie Lie Tan, dan Sam Pek Eng Tay.

Manuskrip Betawi

Masih dipaparkan bang Yahya, berdasarkan kebiasaan orang Betawi mendengarkan pembacaan hikayat yang disampaikan tukang cerita atau syahibul hikayat, kita dapat memperkirakan sejak kapan masyarakat Betawi mengenal dan mengembangkan kesusastraannya.

Hikayat yang terkenal dan sering disampaikan tukang cerita adalah Hikayat Sultan Taburat. Hikayat ini berbentuk cerita berbingkai. Disampaikan dalam bahasa Betawi, dan terdiri dari beberapa episode cerita. Karena terdiri dari beberapa episode cerita, maka banyak tokoh bermunculan. Banyak pula peristiwa datang silih berganti. Semuanya kemudian seolah-olah terpusat pada diri tokoh utamanya, Indra Buganda Syafandar Syah.

Jadi, Hikayat Sultan Taburat sebenarnya berkisah tentang pengembaraan tokoh Indra Buganda Syafandar Syah itu. Hikayat Sultan Taburat sudah dikenal masyarakat Betawi sekitar tahun 1880-an. Ada juga yang mengatakannya, sebelumnya. Menurut penuturan orang-orang tua, tukang cerita yang sangat terkenal dan paling disukai dalam membawakan atau menyampaikan Hikayat Sultan Taburat adalah Haji Jafar.

“Kepiawaian Haji Jafar ini, selain cara penuturannya, juga lantaran kepandaiannya menyanyi. Memang, seorang tukang cerita dituntut hapal berbagai cerita. Ia juga harus mahir membawakannya secara enak. Tidak kalah pentingnya, tukang cerita juga harus pandai bernyanyi,” ungkap bang Yahya.

Selain Hikayat Sultan Taburat yang sering dibawakan tukang cerita, ada pula cerita lain yang cukup terkenal, yaitu Hikayat Amir Hamzah. Berdasarkan naskah yang menjadi koleksi Perpustakaan Nasional, Hikayat Amir Hamzah ditulis tahun 1821, tetapi tidak diketahui siapa penulisnya.

Pada tahun 1870, Bakir mulai menulis Hikayat Sultan Taburat yang berasal dari kesusastraan lisan. Hal yang sama juga dilakukan pada cerita-cerita lain yang juga berasal dari kesusastraan lisan, seperti Hikayat Para Sahabat Nabi.

Di antara penyalin atau penulis naskah itu, Haji Muhammad Bakir termasuk salah seorang pujangga Betawi yang terkenal. Ia memperkenalkan Hikayat Sultan Taburat dalam bentuk naskah buku. Tulisannya menggu-nakan huruf Jawi, yaitu huruf Arab, berbahasa Betawi. Haji Bakir inilah yang memelopori kesusastraan Betawi dalam bentuk tertulis.

Bersamaan dengan itu, beberapa penulis mencetak karyanya. Naskah-naskah yang tadinya ditulis tangan, sekarang dicetak. Ada yang menggunakan huruf Jawi, ada pula yang menggunakan huruf Latin. Dikenalnya alat percetakan ini, memudahkan orang mencetak buku. Bahkan kemudian berkembang dengan mencetak majalah dan surat kabar.

Banyak kemudian dicetak buku-buku keagamaan karya ulama Betawi. Mereka yang lazim mencetak karyanya antara lain : Habib Usman bin Yahya (Sifat Duapuluh, Perukunan Melayu, Babul Minan, dan lain-lain. Kitab-kitab ini menjadi rujukan bagi muallim untuk mengajar di lingkungannya); Muhammad Shihabuddin Alwi (Syair Ikan di Laut dan lain-lain).

Para penulis Tionghoa pun tidak ketinggalan dalam hal cetak-mencetak ini. Jika karya penulis Arba Betawi ditulis dengan huruf Arab Gundul, maka karya penulis Tionghoa Betawi lebih banyak dicetak dengan huruf Latin. (des)

News Feed