by

Jangan Ada Lagi Stereotip Orang Betawi, Dibutuhkan Banyak Penulis Betawi

CIKINI – Komunitas Betawi Kita (Beki) kembali menggelar diskusi yang kali ini bertajuk “Potret Betawi dalam Tulisan”. Bekerjasama dengan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), Kongko Betawi Kita ke 37 ini berlangsung di Auditorium Perpustakaan Umum Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta, Ahad (23/2/2020) siang.

Hadir sebagai narasumber: Yahya A. Saputra (Ketua Litbang LKB), Idrus F. Shahab (Penulis Betawi), dimoderatori oleh Fadjriyah Nurdiasih (Pegiat Betawi Kita). Dalam diskusi ini Cing Yahya, begitu beliau akrab disapa, membawakan makalah berjudul “Betawi Menulis Betawi”. Sedangkan Idrus F Shahab membawakan makalah berjudul “Betawi di Mata Media”

Dikatakan Bang Idrus, di mata media cetak dan online, Betawi hanya eksis di dunia budaya dan seni. Tapi tidak di ranah sosial, ekonomi dan politik. Dalam politik orang Betawi tidak eksis –kecuali secara formalistis, lima tahun sekali. Itulah eksistensi statistik.

‘Maka kita pun mengenal Betawi lewat sinetron Si Doel Anak Sekolahan, Benyamin Biang Kerok, Kecil-kecil Jadi Manten, Bajaj Bajuri dst, dan dari ranah budaya kontemporer inilah bermacam stereotip disematkan kepada orang Betawi. Ironisnya tidak sedikit sinetron yang mengekspos stereotip negatif lantaran ketidaktahuan atau demi kepentingan komersil semata,” jelas Idrus.

Idrus mengatakan, terus terang saja, Betawi adalah obyek untuk tulisan feature, bukan hard news (berita keras). Dari resensi plus pendapat pakar serta  politikus yang mengulas representasi Betawi dalam satu sinetron atau film layar lebar yang baru itulah orang mengenal Betawi. Di ruang yang sempit ini aneka stereotip dilekatkan kepada orang Betawi, termasuk stereotip negatif.

Padahal eksistensi sosial-politik dan ekonomi itu sangat penting. Mungkin karena itulah, untuk membuktikan dirinya belum hapus secara sosial-politik dari peta Jakarta, sebagian orang Betawi kemudian memacetkan jalan Pasar Minggu Raya, Pancoran, larut dalam pengajian rutin Majelis Rasulullah setiap Senin malam.

Sepintas lalu, fenomena ini tak ubahnya seperti suasana ‘hadir’ di Kramat Kwitang, di majelis Habib Ali Kwitang atau Islamic Center Indonesia, tiap-tiap Minggu pagi. Namun kalau dipandang lebih jauh, apa yang terjadi di jalan publik itu menyerupai gerakan Occupy Wall Street di Amerika. Orang-orang yang tidak diakui eksistensinya, kini memperlihatkan diri sebagai bentuk ketidakpatuhan sipil.

“Boleh jadi karena keinginan untuk diakui itu pula, sebagian anak Betawi kemudian bergabung dengan ormas yang fasih berbicara dalam bahasa kekerasan. Alhasil, dengan cara masing-masing, semua ditujukan untuk menunjukan bahwa mereka belum lenyap dari peta metropolitan ini,” paparnya.

Selain lewat tulisan feature, lanjut bang Idrus, sebenarnya ada cara lain menulis tentang Betawi. Sebagai stylish writing, esai menggunakan pelbagai instrumen untuk mendukung bangunan tulisan, demi menyampaikan pesan kepada pembaca – dan fiksi adalah salah satu instrumennya.

Dengan kata lain, esai di sini semacam tulisan opini plus: dia yang tak hanya mengandalkan analisis dan data, tapi juga instrumen lain, termasuk imajinasi dan fiksi.

“Sekedar mengingatkan, tak seperti jurnalisme yang menjunjung tinggi fakta (fakta itu sakral), seraya senantiasa berusaha memurnikan diri dari imajinasi (fiksi) layaknya akidah membersihkan diri dari bid’ah. Ya, esai memiliki kebebasan untuk menggunakan fiksi, bahkan imajinasi surealistis – kendati, setiap imajinasi yang ditulis harus ada penjelasannya.”

Tak semua hal dapat diimajinasikan dan ditulis. Namun paradoks, ironi, semua itu dapat dilukiskan, dideskripsikan untuk mendukung seluruh bangunan tulisan.

“Ada empat esai yang saya akan singgung dalam pembahasan di sini: Wak Lihun (perlindungan bagi si lemah, bagi pejalan kaki), Banjir (politik pemilu), Becek (kekuasaan), dan Malam Jumat (hoaks). Semua berbicara tentang masalah kota/ nasional yang kontemporer.”

Melampaui etnisitasnya, Betawi dalam esai-esai di Ole-ole Betawi dan Orkes Pemilu ditujukan sebagai suatu entitas geografis. Dia menjadi multi etnis yang mengidentikkan diri dengan segalanya yang bersifat betawi. Jadi seperti saya: Betawi keturunan Arab. Dan saya menganjurkan setiap orang memanggil komunitas asal saya Betawi Arab, bukan Arab Betawi.

Dengan begitu bang Idrus bisa memahami mengapa almarhum Ali Shahab begitu tepat dan gigih melukiskan orang Betawi ketika ketika membuka serial Pepesan Kosong. Betawi malas, tukang kawin, ngablak dan stereotip lainnya memang sering muncul di media massa.

“Tapi lagu mukadimah Pepesan Kosong menampilkan kelompok orang yang termarjinalisasi dalam perjalanan sejarah kota ini sesuatu yang tak bisa ditampik. Saya yakin, termarjinalisasi lebih dari  sekedar mitos atau stereotip.

paling kesian anak betawi

aduh nyonyah

paling kesian anak betawi

negerinye abis diambil orang

senayan digusur, kemayoran digusur, tebet digusur.

engkong digusur, uyut digusur, encang digusur,..

Menurut Idrus, wajar sekali jika pandangan ini kemudian menyuruh orang mengulurkan simpati, empati, bahkan solidaritas kepada orang-orang lain yang terpinggirkan dalam pembangunan di kota besar ini. Ketika Survival of The Fittest lebih dari sekedar judul buku, selalu saja ada orang-orang yang terjepit, kalah, tersingkir.

|Ya, siapa saja bisa menjadi Betawi, namun memilih Wak Lihun yang usianya di penghujung 60-an sebagai tokoh utama tentunya dapat berarti lebih dari itu. Orang berusia lanjut –yang belum pikun– adalah saksi hidup atas berbagai kejadian bersejarah di sekitar dirinya. Dan Wak Lihun saksi hidup di tanah Betawi: dari zaman Bung Karno berkuasa sampai Joko Widodo. Jadi dia berhak berbicara apa saja sejak Indonesia merdeka 1945.”

Sekedar gambaran, Wak Lihun adalah tokoh dalam novel Nyai Dasima karya SM Ardan. Berbeda dengan si Miun tukang sado yang mata duitan dan mata keranjang, atau Hayati istri Bang Miun yang gila ceki, Wak Lihun orang yang lurus, pemeluk Islam yang taat. Dia solat lima waktu di langgar dekat rumahnya. Dan dia juga menolak sangat keras ketika keponakannya, si Miun, mengutarakan keinginan untuk mengguna-guna Dasima.

Dalam Ole-ole Betawi dan Orkes Pemilu, Wak Lihun yang berprofesi sebagai supir mikrolet dilukiskan sebagai orang yang sudah banyak makan garam. Menghadirkan tokoh lurus seperti Wak Lihun dalam tulisan sangat boleh jadi memberikan legitimasi moral kepada penulis untuk mengeritik aneka dampak kebijakan pemerintah kepada orang kecil.

Wak Lihun bukan aktivis yang artikulatif menyuarakan protes. Namun di benak Wak Lihun tersimpan memori berisi kesaksian panjang yang setara dengan pendapat Susan Blackburn dalam karyanya “Jakarta, 400 Years of History”. Bahwa Jakarta dibangun untuk para elite beserta kroni dan bukan orang seperti dirinya. (des)

News Feed