by

Di Hari Museum Indonesia, Buku “Gedong Bitjara” Karya CGR Dibedah

KOTA TUA | Dalam rangka Hari Museum Indonesia 2019, Museum Bank Mandiri bekerjasama dengan Penerbit Padasan menggelar Diskusi,  “Ngobrol Sabtu ke-10”. Kali ini membedah buku karya Chairil Gibran Ramadhan (CGR):  “Gedong Bitjara: Setangkle Puisi Sejarah & Budaya”  Sabtu (12/10/2019) siang di Museum Bank Mandiri, Ruang Audio Visual, Jakarta.

Acara yang diidukung: oleh LWG DMO Kota Tua Jakarta, Sahabat Budaya lndonesia, Forum Betawi Membaca, Betawi Center Foundation, Museum Orang Betawi, dan Betawi Channel ini

Hadir sebagai pembicara: Chairil Gibran Ramadhan (Mantan Redaktur Jurnal Sastra, Bandung), Firman Haris (Pengamat Kota Tua Jakarta), Idrus Shahab (Penulis & Wartawan Majalah Tempo), Budi Trinovari (Kepala Museum Bank Mandiri) berhalangan hadir.

“Buku Gedong Bitjara merupakan buku ke-2 dari seri Setangkle Puisi Sejarah & Budaya ~ Betawi, Batavia, Jakarta. Diambil dari karya-karya yg ditulis dan disimpan antara 1996-2016. Seri pertama: Passer Gambier (terbit: 22 Juni 2018; diluncurkan 14 Juli 2018 di Museum Bank Mandiri).

Seri ketiga: Koningin van het Oosten (terbit 11 Sept 2019 akan diluncurkan 26 Okt 2019 di Museum Bank Mandiri). Akan menyudul terbit: Wapen van Holland, Batavia: Oud en Nieuw, Mesigit, Moealim, Tjente Manis Hoedjan Germis, Dajoeng Sampan Dibawah Boelan, Bataviastraat.

Dikatakan CGR, keistimewaan Gedong Bitjara adalah menguraikan sejarah Jakarta/Batavia dengan cara yang tidak biasa, yaitu menuliskannya menjadi puisi. Berbeda dengan kajian akademis yang dituntut untuk mengikuti secara ketat kaidah-kaidah dalam metodologi sejarah, puisi memiliki keluwesan untuk menyampaikan sejarah secara padat dan indah.

Di tangan CGR, sejarah Jakarta dalam puisi menjadi suatu ungkapan yang tidak hanya kaya dengan data, tetapi juga penuh dengan nuansa sastra yang kaya warna. Demikian dikatakan Dr. Bondan Kanumoyoso, FIB UI, sebagai pengantar dalam buku tersebut.

“Sebagai orang yang berkutat dengan Kota Tua Jakarta selama puluhan tahun, saya salut dan tentunya berterimakasih pada sahabat saya, Bang Chairil Gibran Ramadhan, sastrawan Betawi kelahiran kampung Pondok Pinang di Jakarta Selatan ini, karena merangkum sejarah Kota Tua Jakarta dan sekitarnya dalam buku yang tak hanya indah secara isi, namun juga tampilan sampul dan kemasan. Inilah buku puisi pertama yang merekam sejarah Kota Tua Jakarta pada semua titiknya, dengan tingkat cakupan yang nyaris lengkap,” kata Firman Haris, Pengamat Kota Tua Jakarta.

Tahun 1950-an sampai 1970-an, penyair Betawi kebanyakan perempuan. Mereka yang kesohor: Susy Aminah Azis dan Tuty Alawiyah. Keduanya puteri ‘Meester’ (kini Jatinegara). Orang yang lelaki ‘biasanye’ cerpenis, ada Firman Muntaco dan Kamal, CGR cerpenis dan penyair.

Terbitnya ‘Gedong Bitjara’ menggembirakan pada era ‘cyber’, saat media cetak makin terdesak walau tak akan punah. Paling tidak shahihnya karya ‘sastra madih’ mesti melalui media cetak. Academy Swedia yang bertanggungjawab atas Hadiah Nobel masih memakai indikator media cetak. Hadirnya ‘Gedong Bitjara’ karya sastrawan Betawi disambut baik dan mendapat jempol setelah Ardan (1932-2006) dan Firman (1935-1993), asal kampung Pondok Pinang. Demikian Ridwan Saidi, Sejarawan dan Budayawan Betawi berkomentar. (des)

News Feed