Destinasi Wisata Ekowisata dan Agrowisata Condet

Oleh Ali Anwar[2]

CONDET | Saat Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto yang didampingi Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menekan sirine tanda dimulainya normalisasi Kali Ciliwung dan pembangunan sodetan Ciliwung ke Kanal Banjir Timur (KBT) pada 23 Desember 2013, saya berasumsi bahwa inilah awal terputusnya mata rantai ekologi di Kali Ciliwung.

Mengapa? Karena jika normalisasi dipersepsikan sebagai penurapan atau pembetonan pada seluruh tepian Kali Ciliwung, maka akan terputus arus lalu lintas dan komunikasi antarpenghuni badan kali, bantaran kali, dan perkampungan di sepanjang pinggiran Kali Ciliwung, terutama di wilayah Condet yang membentang dari Cililitan sampai Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Kondisi alami yang berlangsung selama ribuan dan jutaan tahun itu akan goyah, terputus, dan punah dalam waktu singkat. Bayangkan, hewan yang hidup di dua alam (bantaran kali dan badan kali) seperti biawak, bulus, berang-berang, linsang, ular, dan buaya (?) akan kesulitan untuk merayap turun-naik menggunakan turap beton setinggi 1-3 meter yang terjal.

Selama ini, lalu-lalang hewan-hewan tersebut terbantu oleh tanah bantaran kali yang tidak terlalu terjal, terbantu oleh ranting-ranting pohon yang menjulur ke sungai, rumput, dan tanaman air.

Hewan yang sudah telanjur menetap di badan sungai, tidak mempunyai harapan lagi untuk naik ke daratan. Sarangnya untuk bertelur dan beranak-pinak rusak, makanannya tak bisa dijangkau.

Bantaran sungai yang sudah tertata baik akan menarik manusia untuk tinggal di tepi kali. Dampaknya, aneka fauna alami tak bisa dijumpai lagi. Kalau tidak dijaga kelestariannya, tanaman khas tepian Kali Ciliwung (salak, durian, rengas, kesemek, bambu, dll) akan punah dalam waktu 5-20 tahun mendatang. Aneka burung endemic Ciliwung punah. Kali Ciliwung pun menjadi sunyi dan gersang, tak lagi hijau-berkicau.

Kali Ciliwung 

Kali Ciliwung  merupakan perpaduan dari anak-anak sungai yang mengalirkan air suci dan jernih dari berbagai mata air yang berhulu di dataran tinggi Sunda di sekitar Bogor, Cianjur, dan Sukabumi. Kali Ciliwung bermuara di pantai bernama Sunda Kalapa. Penduduknya, sejak masa neolithicum (1000-500 SM) telah hidup menetap. Mereka menggunakan Kali Ciliwung sebagai moda transportasi utama, sumber pengairan untuk menyuburkan tanaman, dan bahan baku air minum.

Di sepanjang tepian Kali Ciliwung dan anak sungainya, tumbuh subur aneka tanaman yang bermanfaat untuk kuliner, obat-obatan, pewarna makanan dan pakaian. Di antaranya tumbuh subur padi-padian, pohon pucung (kluwek), asem, pete, jengkol, salam, melinjo, pisang, suji, pandan, kunyit,  kencur, salam, jahe, pala, cengkeh, ketumbar, jintan, temu kunci, temu lawak, lada, kelapa, bawang, oyong, labu, cabe, tebu, jeruk, salak, duku, mangga, durian, dan lain-lain.

Untuk menjualnya, penduduk Condet yang sebagian besar berani dan berkebun menjual hasil komoditinya ke Pasar Minggu, tetangga kampung Condet yang dibatasi oleng Kali Ciliwung. Pasar Minggu menjadi pasar buah, yang buahnya dikirim dari Condet, Depok, Citayam, dan Bogor.

Dari semua tanaman buah-buahan di atas, setidaknya ada dua produk Condet yang amat terkenal sejak masa Hindia Belanda, yakni buah duku dan salak. Saking baiknya kualitas duku dan salak Condet, sampai-sampai dijual ke berbagai daerah di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa seperti Lampung dan Palembang.

Tome Pires dalam catatan perjalanannya mengungkapkan bahwa lada dari Sunda lebih baik kualitasnya darpada lada Cochin, dan yang dapat diekspor setiap tahunnya sekitar 1000 bahar (1 bahar sekitar 220,89 kilogram). Produksinya cukup besar, sehingga setiap tahunnya dapat memuat 1.000 kapal.

Para dokter profesional Perusahaan Dagang Hindia Timur Belanda atau Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) , selain menggunakan obat-obatan farmasi dari Eropa, juga memanfaatkan pengetahuan medis lokal dengan menemukan zat yang efektif dari ramuan asli. Seperti ahli bedah Duraeus dan dokter medis Bontius yang  pada 1620-an melakukan eksperimen flora di Pulau Jawa dan berkonsultasi dengan ahli adat obat-obatan pribumi untuk menyembuhkan penyakit tropis, seperti malaria.

Di sepajang tepian Kali Ciliwung, juga hidup aneka hewan, seperti sapi, kerbau, kambing, babi, ayam, himgga aneka burung. Berbagai jenis ikan berseliweran di kali hingga persawahan dan tambak, seperti ikan gabus, bandeng, lele, patin, keting, belida, sili, cere, bulan-bulan, sepat, betok, tawes.

Seluruh bahan baku yang didapat di  tepian Kali Ciliwung diolah dengan berbagai resep dan kreasi menjadi kulier khas tanah orang Betawi. Karena Jakarta tempo dulu menjadi “metropolitan,” terjadi akulturasi dengan berbagai suku bangsa, sehingga kuliner Betawi berakulturasi dengan berbagai produk kuliner rasa Melayu, Sunda, Jawa, Cina, India, Arab, dan Eropa.

Muncul lah aneka jenis kuliner, seperti sayur Gabus Pucung berbahan  dasar ikan gabus, pucung, daun bawang, seledri, bawang merah, cabe merah, cabe rawit, kunyit, jahe, garam. Pecak Lele atau Pecak Gabus berbahan ikan lele atau gabus, kacang tanah, jantung pisang, oncom, cabe rawit, cabe merah, jeruk limau, gula pasir, jahe.

Juga ada bandeng Pesmol berbahan ikan bandeng, tomat, daun bawang, cabe merah, bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar, jahe, kunyit, kencur. Bandeng Semur berbahan ikan bandeng, sohun, tomat, kecap manis, garam, gula pasir,  air, minyak goreng, bawang merah, bawang putih, merica, pala. Bandeng Acar Kuning berbahan ikan bandeng, jeruk nipis, air garam, cabe merah, gula pasir, kemiri, bawang merah, bawang putih, kunyit.

Semur Daging berbahan daging sapi, kecap manis, tomat, pala, cengkeh, bawang putih, bawang merah, jahe, kemiri, ketumbart, hintan, merica. Semur jengkol berbahan jengkol tua, air, daun salam, sereh, lengkuas, garam, gula pasir, kecap manis, cabe merah, bawang putih, bawang merah, kemiri, pala, merica.

Selain itu, ada Opor Ayam yang berbahan ayam, kelapa, bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar, jintan, merica, laos, daun salam, sereh, gula merah, garam, ketupat. Lantas ada  Sayur Asem berbahan buah melinjo, daun melinjo, kacang panjang, pepaya muda, labu siam, jagung, kacang tanah, kunyit, ketumbar, lengkuas, daun salam, garam, cabe merah, cabe rawit, bawang putih.

Juga ada Gado-gado yang berkacang panjang,  kol,  taoge, labu siam,  tahu cina, tempe, ketimun, kerupuk, bawang merah goreng, kacang tanah, cabe merah, cabe rawit,  bawang putih, garam, gula merah, air, cuka, jeruk limau.  Ketoprak berbahan bihun, taoge, tahu kuning, ketupat, kecap manis, bawang merah, kerupuk. Karedok dengan bahan kacang panjang muda, mentimun, kubis atau kol, kemangi, kacang tanah, cabai rawit, cabai merah, kencur, terasi, cuka, gula merah, garam, air matang).

Laksa berbahan santan, sereh, daun salam, daun jeruk, bawang merah, bawang putih, ketumbar, kunyit, jahe, lengkuas, cabe merah, kemiri, gula merah,  garam, bihun, telur rebus, daun kemangi, bawang goreng, jeruk nipis. Juga ada Asinan berbahan daun selada, kol, mentimun, tekim, tahu, tauge, sawi asin, kacang tanah, bangkwang, kerupuk udang, cabe merah, cabe rawit, ebi, gula pasir, gula merah, cuka, garam, bawang putih.

Adapun kue khas Betawi ada Serabi dengan bahan dasar tepung terigu, baking powder, santan, kelapa, daun suji atau pandan, telur ayam, garam, minyak sayur, santan, gula pasir, garam. Ada Geplak berbahan beras, kelapa, gula pasir,  air, daun pandan, daun jeruk limau. Wajik berbahan beras ketan, santan, gula merah, gula pasir, garam, daun pandan. Juga ada Pisang Nagasari, Dadar Gulung, Talam, Cucur, Cincin, Pepe, Dodol Lapis, Dodol Item, Kerak Telor, Putu Mayang, Jalabia, Sagon, Akar Kelapa, sampai Rengginang.

Entong Gendut

VOC yang kemudian menjadi Hindia Belanda sejak 1800 mengeksploitasi tanah-tanah di Batavia dan sekitarnya. Pengaruh revolusi industri  di Prancis (1789-1799) merebak sampai ke Batavia. Para investor asing membuka perkebunan dan membangun  pabrik sejak abad ke-19, termasuk perkebunan tebu dan pabrik gula serta perkebunan karet dan pabrik karet. Mereka membuang limbahnya ke sungai-sungai di Batavia, sehingga Kali Kali Ciliwung tercemar limbah pabrik industri modern .

Transporasi sungai lambat laun bergeser menjadi transportasi darat seiring mulai dibangunnya jalan raya pos atau Jalan Raya Daendels dan jembatan (1808-1811). Hunian penduduk dan rumah ibadah yang awalnya menghadap ke sungai, diubah menjadi menghadap ke jalan raya. Pelan tapi pasti, sungai yang ditinggalkan berubah fungsi menjadi tempat pembuangan sampah dan limbah.

Beberapa jenis ikan dan flora yang tidak bisa hidup dengan kadar limbah tertentu, punah. Hanya flora dan fauna tertentu yang tetap bertahan dalam kandungan limbah berat sekalipun. Kalau pada 1910-an spesies ikan yang hidup di sungai Ciliwung sebanyak 187 jenis, namun pada 2011 Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH-Depok) menyatakan hanya tinggal 33 spesies ikan yang teridentifikasi hidup di Kali Ciliwung, dan kini tinggal 20 jenis.  Jenis ikan yang sudah hilang dari Kali Ciliwung di antaranya adalah ikan gobi, ikan arelot, ikan soro, ikan berot, hingga ikan belida.

Komunitas Peduli Ciliwung (KPC-Bogor) mencatat, saat ini di Kali Ciliwung ada jenis ikan gobi kecil atau menga, ikan bawal, ikan patin, ikan gehed (sejenis ikan mas), sili, baung lilin, baung kuning, gurame dan buntal air tawar.  Adapun ikan bawal (Colossoma macropopum) dan ikan sapu-sapu (Pterygoplichtys pardalis) menjadi spesies asing yang diintroduksikan ke Kali Ciliwung.

Berdasarkan kagetorinya, identifikasi jenis ikan yang masih hidup di Ciliwung dapat digolongkan menjadi famili Cyprinidae (24,2%), Cichlidae (12,1%), Poeciliidae (9,1%) dan Osphronemidae (9,1%).  Sedangkan ikan asing yang terintroduksi ke sungai Ciliwung berasal dari famili Cichlidae (4 spesies), Cyprinidae (3 spesies), Poeciliidae (3 spesies), Osphronemidae (1 spesies), serta Loricariidae (1 spesies).

Condet bukan hanya terkenal dengan buah-buahannya, terutama duku dan salak, tetapi juga patriotisme penduduknya yang berani menentang tuan tanah dan penjajah Belanda pada masa kolonia. Pemberontakan yang paling menonjol terjadi pada April 1916 yang dipimpin oleh Entong Gendut.

Entong Gendut yang mantan polisi itu tidak suka dengan perlakuan tuan tanah Calinng Ament yang berlaku kasar terhadap penduduknya. Di antaranya melaporkan ke polisi seorang petani penggarap di Condet bernama Taba yang tidak mampu membayar  sewa tanah berikut dendanya sebesar f. 7,20 (tujuh gulden dua puluh sen).

Pengadilan Mester Cornelis memenangkan tuan tanah dan memerintahkan untuk menyita rumah Taba. Meski dihalangi penduduk kampung, akhirnya rumah Taba dijual kepada penduduk bernama Pirun seharga f. 4,50.

Perlawanan meletus pada 9 April 1916. Wedana Meester Cornelis Raden Suriadi  diperintahkan Assisten Residen Meester Cornelis D. Heyting untuk menangkap Entong Gendut di rumahnya di Condet Batuampar. Namun, saat Wedana Suridi dan 14 orang polisi mengepung rumah Entong Gendut, malah balik dikepung oleh sekitar 200 orang pengikut Entong Gendut yang keluar dari persembunyianannya di rerimbunan kebun salak.

Polisi lari tunggang langgang, sedangkan Wedana Suridi ditangkap. Setelah “diceramahi” Entong Gendut, Wedana Suriadi dibebaskan. Keesokan harinya, polisi dalam jumlah lebih besar merangsek ke Condet Batuampar. Entong Gendut dan 200-an pengikutnya melakukan perlawanan. Perlawanan terhenti setelah Entong Gendut gugur ditembak polisi.

Kekhasan flora-fauna dan patriotism Condet di antara perimbangan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin menerbitkan Suat Keputusan (SK) Gubernur nomor D.I. 7903/a/30/1975 tanggal 18 Desember 1975 tentang Kawasan Condet Sebagai Cagar Budaya. Namun, pada perkembangannya, Condet dianggap sudah tidak layak lagi sebagai cagar budaya, sehingga kawasan cagar budaya Bbetawi dipindahkan ke Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Perlu Dilestarikan

Langkah apa yang harus dilakukan agar ekosistem di tanah Condet tetap lestasi di tengah derasnya gelombang pembangunan dan gempuran pembetonan? Pemerintah DKI Jakarta dan warganya harus belajar dari perjalanan sejarah Ciliwung dan Condet. Kemudian melindungi secara konsisten dan mengikatnya dalam bentuk regulasi cagar budaya atau cagar wisata Condet. Lahan yang cukup luas dan berkekuatan hukum harus disediakan oleh pemerintah.

Pemikiran Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tentang perlunya naturalisasi di beberapa titik tepian Kali Ciliwung, termasuk di Condet, harus didukung dan diwujudkan. “Naturalisasi sungai, mengembalikan sungai menjadi ekosistem yang natural, yang alamiah,” kata Anies.

Karena, hanya dengan naturaisasi lah, keanekaragaman hayati di Condet akan lestari: hewan dua alam (air dan darat) seperti biawak, bulus (sejenis kura-kura), ular, bisa naik-turun secara bebas. Tanaman air yang akarnya menempel di antara daratan dengan air akan berkembang secara nyaman.

Kumbang dan kupu-kupu bebas beterbangan dan singgah dari satu bunga ke bunga yang lain. Aneka burung bisa terbang bebas memakan buah, mengisap sari putik bunga, dan menyebarkan bijinya sehingga bersemai tanaman baru. Tanaman buah-buahan, seperti salak condet, secara alami tumbuh sendiri.

Sedangkan untuk melestarikan habitat yang tumbuh di Kali Ciliwung, perlu dibangun kolam buatan yang disesuaiakan dengan kondisi alam dan habitatnya. Selain itu, perlu dibuat aquascape (tanaman air dan ikan hias di dalam akuarium) raksasa yang berisi berbagai jenis tanaman air dan ikan endemik Kali Ciliwung. Sehingga, siapapun yang datang ke  Condet akan menikmati suasana alami destinasi wisata ekowisata dan agrowisata yang lestari.

Meski Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta tahun 1975 tentang Cagar Budaya Condet tidak dipakai lagi, namun jejak-jejak sejarah masyarakat Condet harus dilestarikan, terutama melalui ekowisata dan agrowisata. Untuk mengenang patriotisme nenek-moyang pejuang Condet, Entong Gendut, perlu dilakukan penelitian, penulisan, dan penerbitan buku berisi kisah-kisah patriotisme di tanah Condet. Buku tersebut bisa menjadi satu kesatuan dengan buah duku dan salak Condet yang menjadi souvenir untuk para wisatawan atau tamu yang berkunjung ke Condet.

[1] Makalah disampaian dalam Simposium Sejarah Condet dalam rangka pelestarian dan pengembangan seni budaya agrowisata dan ekowisata di kawasan Condet di Gedung Karawitan Balai Rakyat Condet Balekambang, Jakarta Timur, Rabu, 26 Juni 2019.

[2] Alumnus Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, sejarawan, jurnalis, pembudidaya ikan hiasa dan penggemar aquascape. ***